barangkali bukan kebetulan jika setahun lalu
aku menikahinya tanpa modal seharusnya sebuah pernikahan:
cinta
kami sepakat untuk tidak dengan itu memulai
karena ia telah demikian dekil tercecer di jalanan
dijualbelikan dalam seonggok waktu dan kepingan luka hati
kami tidak menikah
tahun lalu atas nama cinta
tapi atas nama waktu yang berpihak
dan kami tak hendak menolaknya
kali ini
Istriku tahun lalu dengan lantang berkata, Makan tuh cinta!
hanya karena aku masih mensyaratkan adanya
telak!
setahun lalu aku menikahinya dengan tetap saling menggeleng
ketika ditanya, apakah kalian saling cinta?
cinta tidak untuk dikatakan,
didefinisikan
diuraikan dalam essay
ia untuk diceritakan dan dilakukan
(meskipun sebenarnya aku menikah karena aku berhenti berpikir,
tetap saja pengakuanku tertulis jelas di langit tiap aku tengadah:
ada
Yang Lain yang tak pernah tinggal diam)
sekarang yang tinggal adalah tangisan nyaring si kecil
dan celoteh bibir belajar bicara
ia barangkali bukan sekedar cinta lagi
bahkan tak pernah dilahirkan atas namanya
tapi semacam bukti keimananku pada takdir
dan kepasrahan pada waktu yang pernah kusia-siakan
hari ini setahun lalu
aku menyerah
sebab pernikahan ternyata bukan soal menyerahkan kebebasan
mengikat diri dalam tali-tali terjulur dari hati
ia hanya cara untuk berhenti berpikir sendiri
tetap saja, bila ditanya cinta,
aku mencinta yang tidak ada
sebab dengannya aku tahu batas ketidaktahuanku
dan cinta…
biarlah hanya ada dalam cerita
0 komentar:
Posting Komentar